Cerpen #2 Awan

Nun jauh di sana, di pinggir hutan terdapatlah perkampungan yang amat sederhana. Rumah penduduk dibangun dari potongan bambu dan beratap rumbia. Kebutuhan pangan selalu terpenuhi di perkampungan itu, tanah yang amat subur selalu memberikan hasil panen terbaik setiap tahunnya. Para penduduk perkampungan itu adalah orang-orang yang selalu melewati hari dengan gembira, canda tawa selalu terdengar di mana-mana.

Kalau kau berada di sana, kau akan merasa bahwa hidup hanyalah terdiri dari kegembiraan. Namun sebenarnya, di dalam sikap-sikap ramah itu, di balik kegembiraan dan canda tawa itu, mereka memiliki satu cacat dalam diri mereka masing-masing. Cacat yang entah bagai mana tumbuh di tengah-tengah canda tawa. Cacat yang kadang tersisip dalam tegur sapa. Cacat yang selalu mengikuti dalam segala aktivitas perkampungan itu. 

Mereka, membenci seseorang. Mereka, mengucilkan seseorang.

Namanya Awan, umurnya sembilan. Dia tinggal di rumah bambu yang terletak paling ujung. Awan tidak memiliki orang tua. Dia selalu berharap ada titik terang mengenai mereka, mengetahui cerita-cerita tentang mereka. Dia selalu berharap dapat menggambarkan sosok ibunya, menatap wajahnya sekalipun hanya lewat goresan arang di dinding bambu rumahnya. 

Ia selalu berharap dapat melihat wajah ayahnya, meskipun hanya sekali saja. Awan muak pada teriakan-teriakan yang ia peroleh setiap kali bergabung dengan anak-anak perkampungan itu. Sebutan-sebutan anak yang tidak diinginkan selalu terdengar di telinganya.

Awan selalu membantah, mengapa hanya dia yang digunjingkan. Mengapa tidak anak-anak lain yang sama seperti dia? Lihatlah, warga perkampungan itu kembali tertawa terbahak tanpa harus memikirkan hati seorang anak kecil. 

Bagi mereka, alasannya begitu sederhana. Anak-anak lainnya boleh jadi tidak pernah melihat wajah ayah ibunya sejak lahir. Tetapi warga-warga itu mengetahui latar belakang orang tua mereka. Mengetahui seperti mereka mengetahui dirinya sendiri. Sedangkan Awan? Tidak ada yang tahu siapa orang tuanya.

Hampir sembilan tahun yang lalu, saat bulan bersinar redup di dinihari yang amat dingin, seorang nenek datang ke rumah Tetua Kampung, memohon agar diizinkan untuk tinggal di perkampungan itu. Dia datang dari jauh, membawa buntalan kumal yang berisi beberapa pakaian. Di dalam dekapannya, seorang bayi laki-laki berumur tiga bulan tertidur pulas. Dia memohon sambil menyembah. Setidaknya pandanglah bayi ini, Tetua. Lirih sekali suara nenek itu terdengar, mata menghiba menyuarakan harapan yang tersisa. 

Sebenarnya banyak sekali hal yang harus ditanyakan. Tentang nenek itu. Mengenai bayi yang digendongnya. Tetapi demi mendengar rengekan bayi yang mulai kedinginan itu, mulai gelisah di dalam selimut tipis yang menyelimutinya, Tetua Kampung mengizinkan nenek itu untuk menempati sebuah rumah yang berada paling ujung di perkampungan itu.

Semenjak hari itu, selalu terdengar suara tangis bayi di dalam rumah bambu di pinggir hutan itu. Suara nenek tua renta yang kadang kerepotan mengurusnya. Nyanyian-nyanyian pengantar tidur yang selalu terdengar tiap-tiap malam.

Tentu saja hal ini mengundang rasa ingin tahu warga, mereka sibuk bertanya. Sibuk ingin tahu dari mana nenek itu berasal, dan siapa bayi itu, siapa orang tuanya, di mana orang tuanya, karena bagi mereka status seseorang di perkampungan itu harus jelas. Sejelas warna hitam atau putih. 

Saat warga tidak mengetahui asal usul seseorang yang tinggal di perkampungan itu, saat itulah masalah akan terjadi. Nenek itu diam, mata yang berlinang menganak parit berbicara. Apa salahnya? Apa salahnya dengan status dia? Apa salahnya jika ia bahkan tidak tahu siapa orangtua bayi yang dirawatnya. Kenapa warga begitu mendesak?

Tidak bisakah warga tidak terlalu peduli dengan semua itu? Bayi yang tadi tertidur pulas di dalam ayunan merengek terjaga. Nenek itu segera berlari menghampiri bayi itu dan memeluknya erat-erat. Dengan suara yang lantang nenek itu berteriak. 

Tidak peduli bagaimana anggapan kalian padaku dan bayi ini. Awan adalah cucuku, tidak peduli sekalipun dunia tak berpihak padaku, meskipun langit tak merestuinya!

Sejak saat itu, Nenek dan Awan dikucilkan dari pergaulan warga. Hari-hari sulit mulai dirasakan oleh nenek. Perkampungan yang tampak penuh kegembiraan itu, tampak seperti ular besar yang siap melilitnya sejengkal demi sejengkal. Sebenarnya tak ada lagi harapan untuk tetap tinggal di sana, tetapi demi melihat bayi yang dirawatnya kian tumbuh menggemaskan. Demi memikirkan tempat tinggal baru yang boleh jadi lebih sulit lagi, nenek itu memutuskan untuk bertahan.

Hari berganti bulan, tahun berganti begitu cepat. Seiring berjalannya waktu, perkampungan itu pun berubah. Angin kemarau berhembus lebih lama di perkampungan itu. Tahun pertama, perubahan tersebut tidak menjadi masalah bagi warga. Persediaan pangan bahkan masih mencukupi untuk beberapa tahun ke depan. Tetapi masalahnya, hujan tidak pernah turun lagi sejak kemarau panjang yang terjadi pada tahun pertama.

Lahan-lahan persawahan kering dan retak, sumur-sumur mengering dengan cepat, rumput-rumput dan tanaman-tanaman layu dan mati. Lumbung padi mulai menyusut dengan cepat karena untuk memperoleh air dari perkampungan lain yang terletak jauh di selatan, warga harus menukarkannya dengan beberapa karung beras. Ternak-ternak yang mati kelaparan karena tidak ada rumput yang tersisa.

Lihatlah, perkampungan yang selalu berada dalam kegembiraan itu, perkampungan yang rasanya baru kemarin mengadakan pesta panen, kini bermuram durja dengan harapan yang tersisa. 

Para warga mulai gelisah, keluhan selalu tersisip dalam obrolan, rasa cemas kian tergambar dalam tegur sapa. Tak ada lagi senyum menghiasi wajah, kalau pun ada, senyum itu adalah senyum kegetiran. 

Dan gunjingan-gunjingan itu kembali terdengar, mereka mulai sibuk mengaitkan keadaan tersebut dengan Awan, anak yang tidak dikehendaki ada di sana.

Dari gunjingan-gunjingan itu, Tetua Kampung dan para warga memutuskan untuk membuang Awan dan nenek ke dalam hutan. Apa yang salah dengan kehadiran mereka di sana? Mengapa hari-hari baik tidak pernah sudi menyapa mereka? 

Awan dan Nenek terseok-seok melangkah ke dalam hutan dengan hati yang kian meremuk. Tetua Kampung dan warga berharap banyak kehidupan di perkampungan itu akan kembali membaik seperti sediakala setelah kepergian mereka.

Namun harapan-harapan itu hanya ada di masing-masing benak mereka. Hujan tidak pernah turun meskipun Nenek dan Awan yang dianggap sebagai pembawa sial telah disingkirkan dari perkampungan itu. 

Wajah-wajah semakin tertekuk murung. Rasa cemas semakin mengakar di wajah-wajah mereka. Kelaparan menjalar amat cepat di sudut-sudut kampung. Perkampungan yang dahulunya nyaman, kini berubah menjadi perkampungan yang brutal. Rusuh di mana-mana. Warga yang masih memiliki sisa beras dan air harus lebih waspada karena pencurian yang terjadi di setiap sudut kampung itu.

Di tengah-tengah kericuhan itu, di dalam malapetaka itu, datang kabar baik. Janji-janji yang menumbuhkan harapan-harapan baru di perkampungan itu. Tetua Kampung mengumpulkan para warga untuk menyampaikan sesuatu hal yang amat penting.

Pada suatu malam yang teramat tenang, dalam mimpinya, Tetua Kampung didatangi seekor laba-laba raksasa yang pandai bicara. Laba-laba itu mengatakan jika ingin perkampungan itu kembali membaik maka mereka harus pergi ke tengah hutan pada saat purnama dan mereka harus menemukan dua pohon raksasa yang menjulang ke langit. Pohon itu tidak memiliki daun layaknya seperti pohon biasa, tetapi memiliki banyak percabangan.

Jika telah menemukannya, seseorang harus bisa mencapai cabang paling ujung dari salah satu pohon tersebut dan mengacungkan telunjuknya kearah bulan purnama. Harapan-harapan itu menjalar begitu cepat, secepat memadamnya kericuhan yang terjadi. 

Para warga kembali saling membantu satu sama lain. Lihatlah, amat menakjubkan makhluk yang bernama harapan itu. Sekejap ia dapat mempersatukan kembali perkampungan yang hampir binasa karena kehilangan asa.

Malam yang ditunggu-tunggu tiba, angin bersemilir pelan, bulan bersinar terang benderang di atas sana. Terdengar riuh suara kaki-kaki melangkah masuk ke dalam hutan. Tetua Kampung dan seluruh para warga, baik laki-laki maupun perempuan berbondong-bondong menuju ke tengah hutan. 

Harapan-harapan yang terlalu membumbung tinggi boleh jadi mengesampingkan logika seseorang.

Mereka sibuk membayangkan janji hari-hari baik yang akan datang, tanpa memikirkan kembali sesuatu yang akan diperoleh memerlukan lebih banyak pengorbanan lagi. Tepatnya di tengah hutan, mereka menemukan pohon itu, dua pohon tinggi menjulang yang sama sekali tidak ditumbuhi daun. Cabang-cabang pohon yang cukup besar menancap di batang pohon tersebut. 

Dengan dipandu oleh Tetua Kampung, memanjatlah seluruh warga laki-laki dewasa dan bujang-bujang tanggung sedangkan ibu-ibu sibuk memegang lengan anaknya masing-masing dan memandang ke atas pohon dengan wajah berbinar-binar.

Sebentar lagi harapan-harapan itu akan terwujud, sebentar lagi janji-janji hari baik itu akan tiba. Dengan semangat yang berkobar, mereka memanjat pohon itu. Satu demi satu cabang dilewati sambil bersorak bersemangat. Dan saat tiba di pertengahan pohon itu, pada cabang-cabang selanjutnya, terdapat tali-tali besar yang menghubungkan dua pohon itu. Tali-tali itu terajut indah melintang di antara dua pohon itu.

Sebelum mereka sempat menerka-nerka, sebelum mereka sempat mengagumi rajutan itu, tiba-tiba terdengar suara bergemuruh dari bawah sana yang di sambung dengan teriakan-teriakan yang menyayat hati. Apa yang sedang terjadi di bawah sana? Tetua Kampung dan para warga melihat ke bawah, sayup-sayup terlihat pemandangan yang mengerikan. Ibu-ibu dan anak-anak berlarian kesana-kemari.

Tiga ekor laba-laba raksasa yang entah dari mana datang menyerang, menggigit mereka tanpa ampun. Satu-persatu warga yang ada di bawah rebah terkena gigitan laba-laba raksasa itu. Jeritan-jeritan itu mulai melemah. 

Satu laba-laba yang paling besar mulai menaiki pohon itu dengan cepat. Saat anak perempuan Tetua Kampung menjerit ketakutan dihampiri salah satu laba-laba raksasa itu, saat itulah muncul seorang anak remaja yang sejak tadi bersembunyi di balik semak-semak. Anak itu melemparkan sesuatu ke arah laba-laba itu hingga mati.

Dia menghadang laba-laba yang sedang menggigit bapak tua renta. Dia kembali melemparkan sesuatu dari pinggangnya yang menancap tepat di perut laba-laba itu. Binatang itu mengeluarkan suara yang mirip auman sebelum akhirnya roboh kaku di atas tanah. 

Siapakah anak itu? Kenapa dia dapat membunuh laba-laba itu dengan begitu mudah?

Tetua Kampung dan para warga yang berada di atas tidak sempat lagi menyuarakan keheranan mereka. Laba-laba paling besar itu telah sampai di cabang tempat mereka berpijak. Menggigit seorang demi seorang. Keadaan di atas lebih buruk lagi. Warga mulai berjatuhan, warga yang tersisa berusaha untuk mencapai ranting terakhir, berusaha untuk tidak panik, agar ada seseorang yang akan mengacungkan telunjuknya ke arah bulan purnama.

Anak lelaki itu adalah Awan. Amat menakjubkan melihatnya dapat menyimpulkan peristiwa itu dengan cepat. Umurnya baru jalan sebelas saat itu, masa-masa yang seharusnya dihabiskan dengan bermain. Tetapi tidak, Awan berbeda dengan anak-anak lainnya. Dia harus menanggung beban lebih banyak untuk merasakan carut-marut hidup. Semenjak pengusiran itu, nenek jatuh sakit, boleh jadi karena usia yang sudah amat tua. Dan mungkin juga karena ambang batas kekuatan nenek untuk menghadapi semua itu sudah berada pada puncaknya.

Awan diam-diam mengikuti langkah-langkah Tetua Kampung dan warga dari jauh setelah terlebih dahulu menunggu nenek tertidur. Awan memahami situasi itu dengan cepat lewat pembicaraan-pembicaraan warga. 

Betapa terkejutnya ia ketika entah dari mana tiga ekor laba-laba raksasa muncul menyerang warga yang ada di bawah pohon aneh itu. Awan berpikir cepat, rasanya dia pernah mendengar dongeng tentang laba-laba raksasa dan bagaimana cara memusnahkannya, mungkin nenek yang pernah bercerita tapi entah kapan.

Awan kembali pergi entah kemana, dan tak lama kemudian ia datang dengan membawa tiga buah bambu kuning yang runcing. Dia segera bertindak, melemparkan bambu-bambu itu ke arah binatang-binatang mengerikan itu. 

Awan segera memanjat ke atas, ia harus menolong mereka, tidak peduli bagai mana perlakuan mereka terhadapnya selama ini. Ia Mengabaikan suara-suara yang mencoba menghentikannya. Boleh jadi ia tidak memiliki status yang jelas seperti yang diinginkan Tetua Kampung dan para warga. Namun ia ingin membuktikan bahwa ia juga dapat melakukan sesuatu yang berguna.

Awan segera memanjat pohon itu dengan cepat, melewati cabang demi cabang. Tetua Kampung berseru lirih, saat mengetahui bahwa remaja lelaki yang membunuh dua laba-laba raksasa itu adalah Awan, anak yang tidak dikehendaki kini berada kembali di tengah-tengah mereka seperti sosok malaikat.

Awan mendongak, dua pasang mata bertemu dari tempat yang berjauhan itu, mata-mata yang berbicara dan membuat suatu kesepakatan dengan cepat. Awan mengangguk, dia mengerti apa yang harus dilakukannya. Secepat mungkin dia memanjat percabangan-percabangan yang ada di atasnya setelah Tetua Kampung terlebih dahulu kembali menaiki percabangan-percabangan pohon di seberangnya dengan cepat.

Seseorang harus sampai di puncak salah satu pohon itu. Seseorang harus bisa mengacungkan telunjuknya ke arah bulan purnama. Seseorang harus bisa melakukannya, karena jika tidak, sia-sialah semua pengorbanan ini.

Tampak laba-laba itu mengejar Tetua Kampung dengan cepat, dan teriakan yang menyerupai lolongan yang menyayat hati keluar dari mulut Tetua Kampung bersamaan dengan jatuhnya tubuh kekarnya ke bawah. 

Awan menegarkan hati, dia tetap bergerak dengan cepat. Dia adalah satu-satunya harapan yang tersisa. Laba-laba itu tidak memiliki akses untuk menghampirinya sekarang kecuali melalui rajutan tali-tali besar yang merupakan sarang dari laba-laba itu yang berada jauh di bawah.

Awan semakin mempercepat gerakannya, tujuh cabang lagi, ia sudah amat dekat dengan puncak. Saat tangannya meraih cabang keenam, saat itulah sesuatu yang kecil dan amat runcing menusuk pergelangan kakinya. Awan meraung, pegangannya hampir terlepas. Laba-laba itu menyerangnya dengan melontarkan bulu-bulu runcing yang menyerupai jarum yang terdapat di bagian kepalanya sambil mengeluarkan suara bergemuruh.

Awan berusaha untuk tidak mempedulikan rasa sakit yang mulai menjalar di betisnya. Dia masih bergerak dengan lincah sambil mengambil bambu kuning terakhir yang berada di pinggangnya, dengan sekuat tenaga Awan melemparkannya ke arah laba-laba yang cukup jauh di seberang pohon sana. Bambu itu menancap di tubuh laba-laba itu, terdengar suara auman marah yang menggetarkan hati keluar dari mulut binatang raksasa itu. 

Awan tetap memanjat dengan sigap, cabang keempat untuk tiba di puncak telah diraihnya. Namun sebelah kaki lainnya tertancap rambut duri yang kembali dilontarkan oleh binatang raksasa itu sebelum terjatuh kaku di atas tanah.

Awan kembali meraung, rasa sakit yang teramat sangat mulai menjalar naik ke pahanya. Awan berusaha untuk mengabaikan rasa sakit itu. Seseorang harus sampai di percabangan terakhir dari pohon itu. Seseorang harus mengacungkan telunjuknya ke arah purnama. Awan berusaha menaiki cabang terakhir itu dengan sisa-sisa tenaganya. 

Dengan amat payah, Awan akhirnya berada di puncak pohon aneh itu.

Dia duduk di sana, kedua tangan memegang batang pohon erat-erat. Rasa sakit mulai menjalar ke pinggangnya, racun itu menjalar dengan cepat. Kedua kakinya bengkak dan membiru sekarang. Awan mendongakkan kepalanya ke atas, memandang bulan yang bersinar amat terang. 

Lihatlah, anak itu menangis sekarang. Hening. Desau angin mengusap wajahnya yang pucat. Alam seolah-olah turut berduka bersama anak itu.

Banyak hal yang ingin diketahui olehnya. Tentang kedua orang tuanya. Tentang hari-hari baik yang tak pernah menyapanya. Dia meratap sekarang. 

Mengapa ia tak bisa mengenal ayah dan ibunya? 

Mengapa ia tidak bisa menikmati masa kanak-kanaknya dengan bahagia seperti anak-anak lainnya?

Mengapa penduduk kampung itu mengucilkan ia dan nenek? 

Mengapa ia dan nenek harus dibuang ke dalam hutan layaknya seseorang yang telah melakukan kesalahan besar? 

Mengapa nenek tidak pernah bercerita tentang kedua orang tuanya? 

Begitu burukkah mereka sehingga bahkan nenek ingin menguburkan tentang mereka sendirian? 

Wahai, mengapa?

Rasa sakit menjalari perutnya sekarang, Awan menangis dan meratap semakin keras. 

Siapakah yang bersalah di sini? Orang tuanya kah yang salah? Nenek? Perkampungan itu?  

Atau boleh jadi dia yang salah, seharusnya dia tidak berada di perkampungan itu. Seharusnya dia dan nenek pergi jauh-jauh dari sana.

Di tengah-tengah rasa sakitnya, tersisip satu keinginan yang tersisa. Ia ingin mengenal wajah orang tuanya, sekali saja. Dia ingin melihat mereka meskipun kesempatan itu menjadi kesempatan pertama dan terakhirnya. Ia mendongakkan kepalanya, menatap rembulan purnama dengan harapan yang semakin menipis. 

Tolong, sekali ini saja.

Dan di sana, di lingkaran cahaya rembulan yang tampak semakin indah, tergambar dua wajah yang terbingkai elok oleh sinar rembulan. Air matanya menetes semakin deras sekarang. Itu ayah yang selama ini selalu ia bayangkan wajahnya. Itu ibu, yang selama ini ingin ia rasakan pelukannya. Mereka tersenyum padanya. Senyum yang menenangkan. 

Di balik tangisnya, dia tersenyum lirih. Dia ingin membuktikan pada perkampungan itu bahwa ia juga punya ayah dan ibu. Bahwa ia bukan anak yang tidak diinginkan ada di dunia ini. Bahwa dia juga memiliki orang tua seperti anak-anak lainnya.

Racun laba-laba itu menjalar semakin ke atas menuju jantungnya. Sebelum terlambat, sebelum pengorbanan ini sia-sia. Dengan amat payah, Awan mengangkat tangannya. Dia harus membuktikan bahwa dia juga dapat diandalkan. Telunjuk Awan terarah ke bulan purnama sekarang, bersamaan dengan jantung yang berdenyut kian melemah. Terdengar halilintar menggelegar amat kuat memenuhi kesunyian.

Dia melihat ayah dan ibunya tersenyum, tangan mereka merengkuh tubuhnya sekarang. Mereka memeluknya dengan penuh rindu. Senyum terukir di wajah Awan seiring berhentinya denyut jantung. 

Dia tidak akan merasa kehilangan lagi sekarang. Dia memiliki orang tua lengkap. Dia adalah anak yang paling berbahagia di dunia ini. Dia tidak akan sendirian lagi.

Halilintar menggelegar sekali lagi. Tetes-tetes hujan mulai berjatuhan dengan deras. Tiga laba-laba raksasa yang tergeletak mati itu tiba-tiba menghilang tak berbekas bersamaan dengan memendeknya dua pohon tanpa daun itu ke permukaan tanah. Akar-akarnya yang bersembulan keluar merayap menyentuh tubuh-tubuh warga yang bergelimpangan, menyedot racun gigitan laba-laba itu. Sekejap, tubuh-tubuh yang bengkak membiru itu kembali seperti keadaan semula.

Dua pohon itu sempurna tenggelam ke dalam permukaan bumi bersamaan dengan jatuhnya tetes hujan ke permukaan tanah. Tanah-tanah yang retak menyatu dengan amat cepat. Para warga mulai bangun seorang demi seorang dalam keadaan segar bugar. Tatapan-tatapan tak percaya dengan apa yang telah terjadi tergambar di wajah-wajah mereka. Tetes-tetes air yang rasanya sudah lama sekali tidak menimpa tubuh mereka.

Tempat itu kembali riuh rendah. Para warga bersorak-sorak senang, tanpa menyadari di mana Awan. Tanpa tahu bagai mana nasib anak itu sekarang. Tanpa tau kemana raibnya anak yang selalu tidak beruntung itu. 

Akhirnya Tetua Kampung dan para warga sepakat untuk menjemput dan membawa nenek kembali ke perkampungan itu.

Keesokan harinya, di rumah bambu paling ujung di perkampungan itu, terdengar suara lirih memanggil cucunya itu. Berharap cucu satu-satunya datang membawa segelas kopi pahit hangat kesukaannya. Berharap cucunya datang untuk memijit kakinya yang mulai terasa sakit. Dan jauh tinggi di atas angkasa sana melayang satu gumpalan putih keperakan yang amat indah. Gumpalan itu selalu berarak pelan mendekati rumah bambu paling ujung itu setiap kali nenek yang berada di rumah paling ujung memanggil-manggil nama cucunya. Gumpalan itu oleh Tetua Kampung diberi nama Awan Perak.

***

Dia menatap anak laki-laki yang tertidur pulas di depannya, sekali lagi mengusap rambut anak itu dengan pelan. Amat menyenangkan sekali melihat wajah polos tanpa beban itu. Rasanya dia ingin tetap di sana, merasakan kenyamanan yang sudah lama sekali tidak menghampirinya. Merasakan kembali hidup tanpa beban seperti masa kecilnya dulu.

Terdengar suara pintu yang dibuka dari luar, tampak melangkah pemuda jangkung dengan kulit putih-putih menghampirinya.

"Akhirnya, dia tertidur juga," suara renyah pemuda itu memenuhi ruangan hening itu.

"Kau apakan dia?" Sambungnya lagi sambil menepuk pundak laki-laki itu.

"Dongeng, tentang awan." Jawabnya sambil merapikan selimut anak itu.

Wajah pemuda jangkung itu terlihat sangat antusias, lalu memegang bahunya dengan erat.

"Lain kali, kau harus menceritakannya kepadaku, oke?" pintanya dengan penuh harap.

Laki-laki itu tertawa renyah, mengangguk mengiyakan. Sahabatnya itu masih sama seperti belasan tahun yang lalu, selalu antusias terhadap dongeng-dongeng yang diceritakannya kepada anak-anak panti asuhan itu meskipun umurnya sekarang sudah dua puluh lima.

"Ayo, pulang," pemuda itu mulai mendorongkan kursi roda yang didudukinya keluar dari ruangan itu.

Laki-laki itu sekali lagi memandang wajah anak yang tertidur pulas itu, rasanya amat berat untuk meninggalkannya.

"Tono," ucap pemuda yang mendorongkan kursi rodanya itu. Di depan teras, sedang duduk dua perempuan dengan masing-masing lengannya menggendong balita. Mereka tersenyum melihat dua lelaki itu, yang masing-masing merupakan suami mereka.

Mereka berempat menuju pintu keluar panti asuhan itu setelah terlebih dahulu pamit kepada ibu pengurus panti.

"Tetap jadi sahabatku, ya?" Sambungnya lagi.

Laki-laki itu tersenyum, lalu menepuk lengan pemuda jangkung itu pelan sambil mengangguk mengiyakan. Mereka memasuki masing-masing mobil mereka setelah Toni membantu Tono terlebih dahulu untuk masuk ke mobilnya. Deru mesin kendaraan masih terdengar satu-satu.

Seharusnya dia yang meminta pemuda putih-putih itu untuk tetap di sini. Untuk tetap menjadi sahabatnya.

Gambar: Pixabay.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Senandika #1 (Bukan) Genggam

Senandika #2 Sembunyi Tetes

Aku Ada