Postingan

Menampilkan postingan dengan label roman

Cerpen #3 Lala & Lala

Gambar
Seorang gadis kecil berlesung pipit sedang menatap jalanan di luar lewat jendela kayu yang terbuka lebar, hujan turun membasahi bumi malam itu dengan amat lebat. Kilat sibuk memotret bumi dari atas sana dengan cahayanya yang diikuti suara guntur yang saling bersahutan.  Ia tetap tegak di jendela kayu tanpa rasa takut terhadap suara guntur yang menggelegar, tangan kirinya menggenggam sebuah buku bersampul hijau yang amat berharga baginya sekarang. Di sampul buku itu terdapat tulisan “Kado untuk Lala”, dari tadi dia menunggu orang yang membuat tulisan itu, orang yang selalu memberikannya kado sebelum tiga hari peringatan ulang tahunnya.  Malam merambat amat cepat, gelap menelan terang dengan anggun. Seorang perempuan paruh baya menghampiri gadis kecil yang dari tadi tak bisa dibujuk untuk meninggalkan tempat itu.  “Nak, ayo tidur, kamu harus istirahat,” ajaknya lembut seraya mengelus rambut ikal sebahu anak itu. Gadis kecil menepis tangan ramah wanita paruh baya...

Senandika #5 Menyesap Rindu

Gambar
PoV Puan Semenjak kepergianmu, aku jadi terbiasa menjamu rindu di meja pagi. Sendirian. Menyesap rindu diam-diam.  Ada banyak cerita yang ingin kujamu di meja pagi jika seandainya kamu masih berada di sini, di sisiku. Cerita tentang aku yang berusaha dengan tabah melewati hari dengan tunggu meski tahu kamu tidak akan pernah lagi melangkah pulang untuk menemuiku. Meski tahu bahwa kamu tidak akan pernah lagi datang walau hanya sekadar bayang.  Namun, dengan teguh, aku rela berlama-lama memandang ke luar jendela. Berharap ada kamu yang melangkah dari halaman rumah sehabis bekerja.  Aku dengan sungguh masih saja memasang telinga tajam-tajam. Menempelkan seiris demi seiris pendengaranku di tiap-tiap dinding rumah, di tiap-tiap perabotan dan semua benda yang ada di sekelilingku, berharap bisa mendengar suaramu meski hanya sekadar mengucapkan satu kata. Meski kamu hanya mampu bersuara dengan lemah dan sayup. Sejak kamu pergi, aku seakan-akan kehilangan arah. Bi...

Senandika #4 Kita sedang (tidak) Bertemu

Gambar
PoV Tuan Sudah hampir satu jam kita duduk saling berseberangan. Aku sudah memesan makanan dan minuman untuk kita sebelum kamu datang. Aku sengaja datang lebih awal dari waktu yang telah kita tentukan. Lucunya, aku memesan makanan dan minuman dengan senyum yang tak henti-henti membias di wajah.  Aku membayangkan apakah seleramu masih sama seperti lima tahun yang lalu atau sudah berubah karena lidahmu sudah terbiasa dengan makanan Eropa. Aku sibuk membayangkan reaksimu nanti saat pertama kalinya melihatku. Berteriak kegirangan. Lalu, mencecarku dengan banyak pertanyaan tentang apa saja yang sudah terjadi pada diriku dalam lima tahun ini. Kamu periang.  Kamu bukan wanita yang menunggu seseorang untuk menanyakan kabarmu terlebih dahulu. Kamu spontan. Reaksi itu yang tertanam di pikiranku karena kita sudah sekian lama tidak bertemu. Lalu, bagaimana seharusnya aku saat melihatmu nanti? Apakah aku harus berteriak kegirangan juga, atau aku harus terpana karena melihat ...