Cerpen #2 Awan
Nun jauh di sana, di pinggir hutan terdapatlah perkampungan yang amat sederhana. Rumah penduduk dibangun dari potongan bambu dan beratap rumbia. Kebutuhan pangan selalu terpenuhi di perkampungan itu, tanah yang amat subur selalu memberikan hasil panen terbaik setiap tahunnya. Para penduduk perkampungan itu adalah orang-orang yang selalu melewati hari dengan gembira, canda tawa selalu terdengar di mana-mana. Kalau kau berada di sana, kau akan merasa bahwa hidup hanyalah terdiri dari kegembiraan. Namun sebenarnya, di dalam sikap-sikap ramah itu, di balik kegembiraan dan canda tawa itu, mereka memiliki satu cacat dalam diri mereka masing-masing. Cacat yang entah bagai mana tumbuh di tengah-tengah canda tawa. Cacat yang kadang tersisip dalam tegur sapa. Cacat yang selalu mengikuti dalam segala aktivitas perkampungan itu. Mereka, membenci seseorang. Mereka, mengucilkan seseorang. Namanya Awan, umurnya sembilan. Dia tinggal di rumah bambu yang terletak paling ujung. Awan ...