Postingan

Menampilkan postingan dengan label karya

Cerpen #2 Awan

Gambar
Nun jauh di sana, di pinggir hutan terdapatlah perkampungan yang amat sederhana. Rumah penduduk dibangun dari potongan bambu dan beratap rumbia. Kebutuhan pangan selalu terpenuhi di perkampungan itu, tanah yang amat subur selalu memberikan hasil panen terbaik setiap tahunnya. Para penduduk perkampungan itu adalah orang-orang yang selalu melewati hari dengan gembira, canda tawa selalu terdengar di mana-mana. Kalau kau berada di sana, kau akan merasa bahwa hidup hanyalah terdiri dari kegembiraan. Namun sebenarnya, di dalam sikap-sikap ramah itu, di balik kegembiraan dan canda tawa itu, mereka memiliki satu cacat dalam diri mereka masing-masing. Cacat yang entah bagai mana tumbuh di tengah-tengah canda tawa. Cacat yang kadang tersisip dalam tegur sapa. Cacat yang selalu mengikuti dalam segala aktivitas perkampungan itu.  Mereka, membenci seseorang. Mereka, mengucilkan seseorang. Namanya Awan, umurnya sembilan. Dia tinggal di rumah bambu yang terletak paling ujung. Awan ...

Senandika #1 (Bukan) Genggam

PoV: Puan Bagaimana bisa napas yang kuhela sekarang menjadi sangat menyesakkan. Pemandangan kota yang biasanya menjadi tempat menjamu rindu, kini menjadi amat mengganggu. Aku masih ingat ketika untuk pertama kalinya kamu menaruhkan telapak tanganmu yang hangat di punggung tanganku yang tiba-tiba saja dingin membeku. Aku masih ingat ketika matamu yang menatap mataku menjelma cahaya matahari di pagi hari. Hangat.  Aku masih ingat bagaimana susah payahnya mengatur degup jantungku yang seolah-olah akan meledak. Aku masih ingat bagaimana kita berdua meniti hari dengan banyak kisah bahagia. Aku juga masih ingat betapa beraninya aku memberikan genggamanku kepadamu, sesuatu yang belum pernah aku percayakan kepada siapapun. Karena kamu berbeda waktu itu. Aku masih ingat, dahulu, saat kamu masih di sini, aku seperti mendapat seseorang yang paling mengerti bagaimana diriku. Kamu amat berbeda waktu itu, entah bagaimana kehadiranmu sempat mengundang banyak canda dan tawa. Hari-hariku begitu...