Cerpen #1 Paket Air Mata
Aku membantunya mengepak barang-barangnya yang lumayan banyak. Sebentar lagi ia akan angkat kaki dari kontrakan yang telah menampungnya selama dua tahun ini. Dia akan meninggalkan kota ini.
"Apakah sudah dikemas semua barang-barangmu? Apa masih ada yang tertinggal?"
"Nggak, sudah semuanya. Kita benar-benar pisah, dong," katanya cemberut.
"Kenapa? Kamu bingung nggak akan ada orang yang mau dengar curhat kamu lagi?" Kataku sambil memasukkan satu persatu kotak barangnya ke dalam mobil.
Lama dia terdiam, entah memikirkan apa. Mungkin memikirkan Toni, pacar terbarunya itu.
"Nanti bagaimana kalau saya mau curhat sama kamu?"
"Pakai telepati saja."
"Kamu kenapa nggak punya hape, sih? Apa perlu saya belikan sepuluh untuk kamu?"
Aku mengangkat pundakku, membiarkan dia mencari jawabannya sendiri.
"Sok sok an mau membelikanku sepuluh hape, memangnya kamu bisa?"
"Kamu pun bisa saya beli kalau saya mau."
"Memangnya saya barang?"
"Menurutmu kamu barang atau tidak?"
"Tidak."
"Ya sudah, berarti saya nggak bisa beli kamu."
Barang-barangnya sudah dimasukkan ke dalam mobil semuanya. Sebelum dia masuk ke dalam mobilnya, ia membalikkan tubuhnya yang langsing itu, lalu menatapku dengan serius.
"Ini serius, Yo, nanti kalau saya pengen curhat sama kamu sambil nangis-nangis, saya harus gimana? Cuma kamu yang mau mendengarkan curhat saya dan nggak jijik lihat tangisan saya."
"Kalau kita nggak bisa telepati, kamu bisa memaketkan air matamu ke saya," kataku berkelakar.
Dia terlihat tersenyum, cerah sekali, seperti baru saja menang lotre.
"Beneran?" Tanyanya.
Aku menganggukkan kepalaku, ia menganggapnya serius sekali sementara aku tidak bermaksud membuat saran konyol itu menjadi serius. Siapa pula orang yang kurang kerjaan di dunia ini yang akan memaketkan air matanya ke seseorang. Tapi karena tak mau melenyapkan senyuman itu, aku mengangguk saja.
***
Sudah hampir tiga bulan dia meninggalkan kota ini. Sepertinya dia sangat betah tinggal di kota itu, apalagi dia akan dengan mudah gonta-ganti pacar karena di sana, ia pernah bilang kalau prianya ganteng-ganteng.
"Nih, Yo, lihat, si Nita sudah ganti cowok lagi." Rina mendekatkan layar hapenya ke mukaku, dekat sekali, mungkin dia sengaja mau membuat mataku buta.
Rina, cewek yang terang-terangan menyatakan perasaannya kepadaku. Dia cantik, banyak sekali pria yang berusaha menggaetnya untuk dijadikan pasangan. Bodohnya, dia malah sibuk mengejarku yang jauh dari kata keren ini. Aku sudah bilang berkali-kali ke dia bahwa tidak bisa menerimanya sebagai pacar.
"Oke, jadikan saya sahabatmu kalau gitu." Katanya ngotot saat itu. Dia bilang akan memanfaatkan kesempatan itu untuk meluluhkanku agar mau menjadi pacarnya. Aku tidak mengiyakan, juga tidak menolak keinginannya itu. Membiarkan dia melakukan inginnya asalkan selama itu tidak mengganggu aktivitasku.
"Kamu kenapa, sih, bisa-bisanya selama ini bertahan menjadi pendengarnya dia? dengar dia curhat tentang patah hatinya ke pacar sekiannya itu, nangis-nangisan tapi besok-besoknya dia sudah nempel lagi ke pelukan pria lain."
"Memangnya salah, ya?"
"Bangun Tio, Bangun, kamu cuma dimanfaatkan sama dia!"
"Kamu kenapa juga masih di sini, saya kan sudah bilang tidak bisa menerima kamu."
"Saya pacarmu yang tertunda, Yo, walaupun sekarang baru bisa jadi sahabat, sih."
"Siapa yang bilang kamu sahabat saya," kataku lagi.
"Saya yang bilang," kata Rina gemas.
"Banyak cowok yang ngejar saya, cuma kamu yang acuh tak acuh kepada saya, salahkan dirimu sendiri yang telah buat saya tertarik sama kamu!" Cecar Rina gemas sambil menyesap minumannya sampai habis. Dia sengaja menemuiku di kafe kecil ini, tempat biasanya aku mengerjakan desain banner pesanan pelanggan.
Rina adalah wanita yang cantik, kenapa aku bisa menolaknya? Tanyaku pada diriku sendiri pada suatu hari, lalu terlintaslah wajah Nita. Nita yang sedang sesenggukan menangis sambil menceritakan patah hatinya yang kesekian kali. Nita yang bahkan tidak memintanya untuk memberi saran apa-apa. Hanya sebagai pendengar. Nita yang selama ini membagikan kesedihannya kepadanya, meski kebahagiaannya ia bagi ke pria-pria lain. Nita yang di matanya selalu terlihat cantik meski ia sedang tidak dandan.
***
Suatu hari, sekotak benda teronggok di depan kamar kosku. Aku mengambilnya dan mencari nama pengirimnya. Paket dari Nita, perempuan yang membuatku jatuh cinta. Ternyata dia masih ingat denganku, aku pikir aku sudah hilang dari dunianya karena kami sama sekali tidak pernah bertukar kabar. Salahku sendiri, sih, tidak punya hape bahkan nomer telepon. Waktu membuat akun email pun, aku tidak menautkan nomer ponsel karena memang tidak punya. Pernah kutawari alamat emailku ke dia, tapi dia malah tidak mau. Ribet, katanya waktu itu.
Aku membuka kotak yang menampung sebuah benda di dalamnya menggunakan gunting, mengeluarkan benda yang ada di dalamnya, sebuah botol mungil yang berisi air bening. Kemudian aku kembali meraba-raba permukaan kotak itu, siapa tahu ada petunjuk air apa ini dan apa kegunaannya. Tanganku mengambil sebuah surat yang penuh dengan bercak air yang telah mengering.
Tio, ini air mata saya, hubungan saya sama Toni sudah kandas, dia selingkuh di belakang saya.
Aku menghela napas dalam-dalam. Dia benar-benar melakukan hal konyol itu. Aku meletakkan botol mungil yang berisi air mata Nita ke dalam kotak kaca kecil, lalu meletakkannya ke atas meja di kamarku. Walaupun Nita tidak bisa kumiliki, setidaknya aku memiliki air matanya. Paket ini setidaknya membutuhkan tiga hari untuk sampai ke kostanku, itu berarti bisa saja Nita sudah mendapatkan pacar baru lagi.
"Tio, Tio, gila ini benar-benar gila! Kamu sudah tahu belum kalau Nita sudah putus sama Toni beberapa hari lalu dan sekarang dia sudah punya pacar baru lagi!" Kata Rina penuh semangat sambil memperlihatkan gambar Nita yang sedang berpelukan dengan seorang pria tampan. Rina lagi-lagi datang ke kafe kecil ini.
"Saya sudah tahu."
"HAH? Kamu sudah punya hape, ya?" tanya Rina penuh selidik.
"Saya nggak akan pernah mau punya hape walaupun saya sanggup beli sepuluh."
"Jadi, tahu dari mana kamu kalau dia patah hati dan dapat cowok baru lagi?"
"Kamu kan yang barusan bilang ke saya."
"TIOOOOOOOOOOO!!!!" Jerit Rina marah, tangannya sudah siap-siap ingin mencubit perutku. Untungnya aku cepat pindah ke tempat duduk yang ada di seberangnya.
Aku menerima paket air mata dari Nita sejak hari itu dan secarik kertas yang dipenuhi bercak-bercak bekas air mata. Surat mini yang mengatakan ia putus dari Anto, Eko, Angga, Doni, dan sederet nama pria lainnya. Apakah benar sesedih itu kehilangan yang ia rasakan? Kalau benar sedih, kenapa dengan gampangnya ia bisa menjalin sebuah hubungan lagi dengan pria baru? Aku menghela napas panjang, menyusun koleksi air mata Nita yang sudah penuh dua kotak kaca.
Apa kamu tidak sadar, Nita, kalau di sini, ada seseorang yang mau menerima air matamu, yang tidak apa-apa meski kamu tidak ingin membagikan kebahagiaanmu dengannya. Yang takut kehilangan paket air matamu kalau ia menyatakan perasaannya, yang takut kamu menjauh jika kamu tahu isi hatinya.
***
Sudah berbulan-bulan aku tidak lagi mendapatkan paket air mata dari Nita, bahkan kurang seminggu lagi akan genap setahun aku tidak menerima paket darinya. Apakah dia baik-baik saja? Karena Nita tanpa paket air mata adalah suatu keganjilan bagiku yang sudah biasa menerima air matanya dan sudah tahu dia. Hari ini aku pergi ke salah satu toko pakaian pria dengan Rina yang mengekor di belakangku. Dia ngotot untuk menemaniku padahal aku sama sekali tidak meminta, malahan mengusirnya untuk pergi. Katanya, kapan lagi bisa menemani calon pacarnya berbelanja pakaian setelah selama ini terlihat kerasan di kafe kecil itu.
"Kamu tahu berita terbaru, nggak?" Tanyanya sambil turut memilihkanku warna kemeja yang ingin kubeli.
"Tentang penyiraman itu, ya?" Tanyaku, karena yang terlintas di benakku adalah berita yang sering dilihat oleh bapak kosku di televisi.
"Iiih, bukan itu." Tukas Rina gemas.
"Ini tentang Nita, sohibmu itu."
"Memangnya dia kenapa lagi. Kayaknya dia nggak sedang patah hati, deh."
"Kok kamu tahu? Atau jangan-jangan kamu sering stalking media sosialnya, ya? Kan bisa lewat laptop meski kamu berdalih nggak punya hape."
"Gimana caranya saya mau stalking, akun media sosialnya saja saya tidak tahu. Saya cuma nebak"
Rina manggut-manggut, sambil tersenyum cerah sekali.
"Kamu itu benar-benar unik, ya, bisa-bisanya kamu nggak megang hape di jaman secanggih sekarang ini dan komunikasi cuma lewat email. Kamu ini manusia apa bukan, sih?"
"Memangnya saya terlihat seperti setan?"
"Kalau pun kamu setan, saya tetap jatuh cinta sama kamu, kok."
"Saya enggak"
"Nggak apa-apa, nanti juga kamu bakalan cinta sama saya."
"Ini serius, ya, Rina, kamu jangan coba-coba memelet saya."
"Idih, saya nggak akan main kotor, Yo. Lagipula pelet itu dilarang dalam agama."
"Syukurlah kalau kamu tahu itu, memangnya kenapa lagi dengan Nita?"
"Dia nikah, Yo, sama pacar terakhirnya itu. Ini, nih foto Nita sama suaminya. Kamu nggak dikasi tahu, ya, sama dia? Nggak diundang? Nggak ada basa-basi dari dia? Ya ampun, sohib macam apa dia, padahal undangan bisa dikirim lewat pengiriman yang pasti bejibun jumlahnya di sana, tiga hari paling sudah sampai, ..."
Rina menyerocos tanpa henti sambil memperlihatkan gambar Nita dan suaminya di layar hapenya, sementara aku dengan susah payah mengendalikan diriku sendiri. Seperti ada yang hilang. Tapi kan kamu memang sudah lama kehilangan air mata Nita. Kenapa sekarang rasanya sakit? Salahmu sendiri terlalu takut menyatakan. Aku berjalan cepat-cepat menuju kasir, meninggalkan Rina yang sibuk berteriak meminta agar aku menunggunya. Memangnya, dia tidak melihatku sedang patah hati, apa? Hah, patah hati? Patah hati pada siapa? Pada Nita? Memangnya selama ini kalian punya hubungan yang serius? Kamu cuma tempat berdukanya, bukan tempat untuk dia berbahagia. Sadar! Tio, Sadar!
***
Dua tahun sejak pernikahan Nita, aku memutuskan untuk melakukan perpisahan sendirian. Aku tidak ngekos lagi karna aku luluh dengan permintaan ibuku yang menyuruhku tinggal di rumah saja, lagipula, aku anak pertama dan terakhir. Koleksi air mata Nita masih kusimpan di lemari karena meletakkannya di atas meja membuat aku tidak pernah bisa konsentrasi melakukan pekerjaanku. Membuangnya, aku belum sanggup melakukan itu. Pernah Rina main ke rumahku dan ia sibuk bertanya air apa yang ada di botol-botol mungil yang tersusun di kotak kaca itu saat dia ke kamarku. Kubilang saja itu jimat untuk menangkal pelet dari dia.
"Ini serius, Tio, sumpah aku nggak pernah berniat sedikit pun untuk memelet kamu."
"Jadi, sekarang kamu ngapain ke sini kalau bukan untuk melet aku?"
"Lelaki macam apa kamu yang tega suudzon sama tunangannya sendiri?" Rina memajukan bibirnya, cemberut.
"Cuma bercanda doang, kok." Aku memberantakin rambutnya dengan gemas.
Aku dan Rina memutuskan untuk bertunangan setengah tahun lalu, dan kami akan segera menikah beberapa bulan lagi. Apakah ini pelarian dari patah hati sendirian? Entahlah, tapi yang jelas selama ini Rina bersedia membagikan kebahagiaan dan kesedihannya kepadanya. Aku tidak saja menerima air mata, juga bingkisan bahagia dari Rina, meski menghabiskan banyak waktu untuk bisa benar-benar menerima Rina di sisiku karena bayangan Nita masih usil suka mengangguku.
Tidak ada lagi Nita sekarang karena kami sudah menjalankan hidup masing-masing. Nita sudah sibuk mengurus bayinya yang baru berumur tujuh bulan, info ini kudapat dari Rina yang masih suka stalking media sosial Nita. Tidak ada lagi paket air mata yang kuterima. Mungkin sudah lebih dari cukup dengan dua kotak kaca berisi botol-botol air mata Nita.
Seminggu sebelum pernikahanku dengan Rina, aku mendapat email dari bapak kosku dulu. Orang-orang yang ingin berkomunikasi denganku memang hanya bisa lewat email karena sampai sekarang ini aku sama sekali tidak tertarik punya hape. Kata beliau ada paket yang datang untukku, tanpa ada nama pengirim sama sekali. Jarak rumahku dan kostku dulu hanya berjarak tiga jam perjalanan menggunakan sepeda motor. Namun, aku meminta beliau untuk mengirimkannya saja ke alamat rumahku yang telah kuberikan lewat email dan aku segera mengirimkan biaya pengirimannya.
Paket itu telah sampai di rumahku. Kotaknya lumayan besar, tidak seperti kotak-kotak paket air mata Nita dulu. Siapa pengirimnya? Apakah Nita? Karena cuma Nita yang tahu alamat kostanku dan karena Nita yang dulu sibuk mengirimkan air matanya, makanya aku mendapatkan paket, selain itu tidak pernah sama sekali. Aku membawa paket itu ke kamarku dan menaruhnya di lantai, lalu membuka kotak itu menggunakan gunting. Cukup susah membuka kotak itu karena memiliki lapisan yang cukup banyak. Ternyata, di dalamnya ada sebongkah hati berlumuran darah yang sudah mulai mengering, dan terselip gulungan kertas dengan bercak-bercak merah di dalam kotak itu. Aku membuka gulungan kertas itu:
Tio, ini Nita. Ini hati saya, dan saya ingin membagikannya dengan kamu. Saya nggak akan mengirimkan air mata saya lagi ke kamu, tapi hati saya, juga bahagia saya. Saya sudah tidak sama Hengky lagi, dia tidak bisa menerima air mata saya seperti kamu. Dia hanya ingin menerima bahagia saya. Semoga saya belum terlambat, Tio.
***
Kami bertamasya ke salah satu museum di kota hari ini, aku menggendong putraku yang baru berumur tiga tahun, sementara kakaknya sedang dipegang tangannya oleh ibunya, istriku. Kami melihat-lihat patung-patung para pahlawan yang memenuhi di setiap sudut museum ini, juga membaca keterangan yang terdapat di samping patung tersebut.
"Kenapa museum selalu sepi, Ayah?"
"Karena banyak orang yang lebih memilih pantai."
"Kenapa memilih pantai?"
"Karena mereka tidak suka museum."
"Kenapa tidak suka museum?"
"Karena mereka suka pantai."
Tiba-tiba istriku memotong percakapanku dengan kakak.
"Ayah, anaknya bertanya ya dijawab dengan benar, dong."
"Memangnya jawaban ayah salah, ya?"
"Nggak, sih, tapi menyebalkan. Kenapa mutar-mutar ke situ saja jawabannya. Pusing mendengarnya!"
"Ya, sudah, tidak usah didengar,"
Sementara itu putraku tergelak-tergelak dari dalam gendonganku, mungkin dikiranya orang tuanya sedang stand up comedy, diikuti si kakak yang tergelak karena melihat adiknya yang sedang terpingkal.
"Awas kamu, ya, Tio, benar-benar akan aku pelet kamu, biar nggak ngeyel jadi suami." Bisik istriku di telingaku, sambil mendekatkan sebelah tangannya ke perutku untuk mencubit.
"Coba saja kalau kamu bisa, yang ada kamu yang akan saya pelet, Rina." Kataku sambil mengaduh karena tidak bisa menghindari cubitannya.
"Jimatmu kan sudah kamu buang, hahahaha nggak ada lagi yang bisa melindungi kamu."
"Ada."
"Siapa?"
"Kamu, dan anak-anak kita."
Tamat
Picture : pixabay.com
Komentar
Posting Komentar