Aku membantunya mengepak barang-barangnya yang lumayan banyak. Sebentar lagi ia akan angkat kaki dari kontrakan yang telah menampungnya selama dua tahun ini. Dia akan meninggalkan kota ini. "Apakah sudah dikemas semua barang-barangmu? Apa masih ada yang tertinggal?" " Nggak , sudah semuanya. Kita benar-benar pisah, dong ," katanya cemberut. "Kenapa? Kamu bingung nggak akan ada orang yang mau dengar curhat kamu lagi?" Kataku sambil memasukkan satu persatu kotak barangnya ke dalam mobil. Lama dia terdiam, entah memikirkan apa. Mungkin memikirkan Toni, pacar terbarunya itu. "Nanti bagaimana kalau saya mau curhat sama kamu?" "Pakai telepati saja." "Kamu kenapa nggak punya hape , sih ? Apa perlu saya belikan sepuluh untuk kamu?" Aku mengangkat pundakku, membiarkan dia mencari jawabannya sendiri. " Sok sok an mau membelikanku sepuluh hape , memangnya kamu bisa?" "Kamu pun bisa saya beli kalau ...
Nun jauh di sana, di pinggir hutan terdapatlah perkampungan yang amat sederhana. Rumah penduduk dibangun dari potongan bambu dan beratap rumbia. Kebutuhan pangan selalu terpenuhi di perkampungan itu, tanah yang amat subur selalu memberikan hasil panen terbaik setiap tahunnya. Para penduduk perkampungan itu adalah orang-orang yang selalu melewati hari dengan gembira, canda tawa selalu terdengar di mana-mana. Kalau kau berada di sana, kau akan merasa bahwa hidup hanyalah terdiri dari kegembiraan. Namun sebenarnya, di dalam sikap-sikap ramah itu, di balik kegembiraan dan canda tawa itu, mereka memiliki satu cacat dalam diri mereka masing-masing. Cacat yang entah bagai mana tumbuh di tengah-tengah canda tawa. Cacat yang kadang tersisip dalam tegur sapa. Cacat yang selalu mengikuti dalam segala aktivitas perkampungan itu. Mereka, membenci seseorang. Mereka, mengucilkan seseorang. Namanya Awan, umurnya sembilan. Dia tinggal di rumah bambu yang terletak paling ujung. Awan ...
I like ♡
BalasHapus